Kamis, 12 April 2012

Ketentuan dalam membunuh Ular dalam agama islam dan Misterinya.

dalam agama Islam, membunuh ular ada hukum (ketentuannya) yaitu sbb:

Janganlah membunuh ular penghuni rumah kecuali ular yang pendek ekornya dan mempunyai dua garis putih yang ada di punggung ular tersebut karena ia dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. Bunuh-lah ular itu," (HR Bukhari [3311]).

Dari Ibnu 'Umar r.a, bahwa ia biasa membunuh ular-ular, lalu Abu Lubabah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah saw. melarang membunuh jinnan yakni ular-ular penghuni rumah. Lalu Ibnu Umar menahan diri darinya, (HR Bukhari [3312 dan 3313] dan Muslim [2233]).

Kandungan Bab:
1. Larangan membunuh 'awamir rumah (yakni ular-ular penghuni rumah), karena boleh jadi ular itu adalah jin-jin muslim. 

2. Jika terlihat ular dalam rumah, maka diberitahu selama tiga hari dan menghalaunya dengan mengatakan: "Engkau berada dalam kesulitan!" Bila ular itu tidak pergi atau muncul lagi setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan yang kafir.

3. Dari Abu as-Sa'ib, maula Hisyam bin Zahrah bahwa ia menjenguk Abu Sa'id al-Khudri di rumahnya. Aku dapati ia sedang shalat. Maka aku pun duduk menunggunya. Setelah selesai shalat aku mendengar suara di salah satu tiang di atap rumah. Aku melihatnya ternyata seekor ular. Maka aku pun bangkit hendak membunuhnya. Abu Sa'id mengisyaratkan agar aku duduk kembali. Aku pun duduk. Setelah keluar beliau menunjuk sebuah rumah. Beliau bertanya, "Apakah engkau melihat rumah itu?" "Ya!" jawabku. Beliau bercerita, "Dahulu di rumah itu tinggallah seorang pemuda yang baru saja menikah. Maka kami pun berangkat bersama Rasulullah saw. ke peperangan Khandaq. Pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah untuk kembali ke rumah pada tengah hari. Rasulullah saw. mengizinkannya dan berkata kepadanya, 'Bawalah senjatamu, aku takut engkau dihadang oleh Yahudi Bani Quraizhah' Maka pemuda itu pun membawa senjatanya. Kemudian ia kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia dapati isterinya berdiri di depan pintu rumahnya. Maka ia pun menyerbu ke arah isterinya untuk memukulnya dengan tombaknya. Ia telah terbakar rasa cemburu. Si isteri berkata kepadanya, 'Tahan dulu tombakmu terhadapku! Masuklah ke dalam rumah supaya engkau dapat melihat apa yang menyebabkan aku keluar rumah.' Maka pemuda itu pun masuk ke dalam rumah ternyata ia dapati ular besar melingkar di atas tempat tidurnya. Maka ia pun menyerangnya dengan menusukkan tombaknya. Kemudian ia keluar dan menancapkan ular itu pada tombaknya lalu ular itu menggeliat dari ujung tombak dan menyerangnya, tidak diketahui siapakah yang lebih dahulu mati apakah ular itu atau pemuda tadi. Kami pun menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah saw, kami berkata, 'Mintalah kepada Allah agar Dia menghidupkannya kembali untuk kami.' Rasulullah saw. berkata, 'Mintalah ampunan untuk Sahabat kalian ini.' Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya kota Madinah ini dihuni oleh jin-jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat ular, maka usirlah selama tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syaitan'," (HR Muslim [2236]).
Dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya rumah-rumah ini dihuni oleh 'awaamir (jin-jin berwujud ular yang biasa menghuni rumah"pent), jika kalian melihatnya, maka usirlah atas nama Allah selama tiga hari. Jika tidak pergi juga, maka bunuh-lali karena ia adalah jin kafir," (HR Muslim [2236]).
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 2/541-542.


Berikut beberapa kisah tentang kesialan orang yang pernah membunuh ular. 



kejadiannya waktu ane masih kecil sekitar akhir tahun 80an, saat itu ane tinggal di daerah ciputat. rumah ane lumayan gede gan, kerjaan bokap ane jg enak.
suatu siang, ane lg tidur siang diatas kasur lipat, yang dibawahnya dialasin tiker lebar. nyokap ane kebetulan keluar dari dapur dan ngeliat ujung tiker yg lebar itu tergulung/terlipat, nyokap ane benerin tiker yg tergulung itu pake kaki..tiba2 nyokap ane kaget, ternyata dibalik tiker yg tergulung itu ada ular yang bentuknya kaya gini gan.

dengan shock nyokap ane langsung angkat ane yg lg tidur siang dan keluar rumah untuk minta bantuan tetangga2 sekitar, kebetulan siang itu gak ada bapak2, mungkin karna masih jam kerja, jd yang ada ibu2 semua. mereka jg panik dan tetangga sebelah rumah ane ungsiin ane sama nyokap sambil nunggu bokap ane pulang. pas bokap ane pulang nyokap langsung ceritain, bokap ane langsung cari bambu buat cari dan matiin ularnye. tiba2 ada salah seorang tetangga yang bilang "jangan dimatiin pak dibuang aja",tapi bokap ane gak dengerin, dengan kalap bokap ane cari tuh ular sampe akhirnya ketemu, langsung ditusuk pake bambu trus dibakar di luar rumah..akhirnya tenang juga dan tetangga pada bubar, tapi ada satu ibu2 yg td bilang jgn matiin ularnya, deketin nyokap ane trus dia bilang "bu, harusnya td jgn dibunuh ularnya, klo saya kan orang jawa,katanya kalo bunuh ular itu bisa sial ato ada kejadian2 yg gak baik nanti"..

percaya gak percaya gan, beberapa hari kemudian bokap ane jd kaya orang ling-lung, trus sakit gak jelas, sampe2 akhirnya perusahaan bokap ane bangkrut.. (matsuka666)





Lolzebot 
Ane punya pengalaman dengan ular gan.
Waktu istri ane hamil, pas ia lagi di dapur, ia liat ada ular kecil.
Lalu ia lapor ke ane.
Karena takut membahayakan keselamatan, maka ane membunuh ular tersebut.

Entah berhubungan atau engga, pas istri ane melahirkan, sekitar 5 menit kemudian, anak ane meninggal.

Ga tau ada hubungannya atau engga, ane ga tau.
Yang jelas ane kepikiran terus sampe sekarang pernah bunuh ular pas istri ane hamil.
Ane ga akan bunuh ular lagi. Kalo ada ular di rumah, mau ane buang aja gan






Kesimpulan : jika ada ular di rumah, hendaknya di usir, apabila dalam waktu kurang dari 3 hari ular itu kembali, maka boleh dibunuh







sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8839213

3 komentar:

  1. kalo pelihara uler itu sebenernya boleh ga sih ?
    mohon pencerahanya, saya punya banyak ular dirumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ingat..............riwayat hadits yg disebutkan penulis di atas khusus untuk kota madinah, dimana dlm kota tsb ada larangan membunuh binatang tertentu krn bs jadi merupakan penjelmaan jin muslim. sebagai bahan pertimbangan, coba anda tinjau tulisan berikut:
      Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ : الْحَيَّةُ ، وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ ، وَالْفَأْرَةُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ ، وَالْحُدَيَّا
      ”Lima binatang pengganggu yang boleh dibunuh di tanah halal maupun tanah haram: Ular, gagak abqa’, tikus, anjing galak, dan elang. (HR. Muslim 1198).

      Makna Hadis:

      Tanah halal: daerah di luar wilayah tanah haram

      Tanah haram: daerah di Mekah atau Madinah yang memiliki hukum khusus, diantaranya tidak boleh memburu binatang liar di sana.

      Kemudian dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar,

      اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ
      ”Bunuhlah ular-ular.”

      Komentar Ibnu Umar,

      فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا
      “Setiap kali saya ketemu ular, tidak saya biarkan dan saya bunuh.” (HR. Bukhari 3299 dan Muslim 3233).

      Kemudian, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

      أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ : الْحَيَّةُ ، وَالْعَقْرَبُ
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh dua binatang hitam ketika shalat: ular dan kala. (HR. Turmudzi 390 dengan derajat shahih).

      Kita simak semua hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh ular. Dan tentu saja, perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allah. Karena itu, mentaati beliau, sejatinya adalah mentaati Allah,

      مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
      ”Siapa yang mentaati Rasul, berarti dia mentaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80).

      Jika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk membunuh ular, bagaimana mungkin seorang muslim justru malah merawatnya. Karena itulah, memahami hadis di atas, para ulama menegaskan haramnya memelihara binatang yang disyariatkan untuk dibunuh.

      Az-Zamakhsari – ulama Syafiiyah – (w. 794) mengatakan,

      يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ
      Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya: anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kala, tikus, gagak abqa’, dan ular. (al-Mantsur fi al-Qawaid, 3/80).

      Demikian pula dinukil oleh Ibnu Hajar al-Haitami – ulama syafiiyah – (w. 974 H.) dalam Tuhfah al-Muhtaj,

      وَيَحْرُمُ حَبْسُ شَيْءٍ مِنْ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ عَلَى وَجْهِ الِاقْتِنَاءِ
      “Diharamkan mengurung lima binatang pengganggu untuk dirawat.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarh Minhaj, 9/377)

      Dalam Hasyiyah al-Qalyubi dan Umairah – ulama madzhab Syafii – dinyatakan,

      ويحرم ما ندب قتله لأن الأمر بقتله أسقط احترامه، ومنع اقتناءه..
      “Binatang yang dianjurkan dibunuh, haram untuk dipelihara. Karena adanya perintah untuk membunuhnya, menggugurkan kemuliaannya, dan dilarang memeliharanya…” (Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairah, 16/157).

      Kemudian, Ibnu Qudamah – ulama hambali – (w. 620 H.) menetapkan sebuah kaidah,

      وما وجب قتله حرم اقتناؤه
      ”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (al-Mughni, 9/373)

      Allahu a’lam

      Hapus
  2. ingat..............riwayat hadits yg disebutkan penulis di atas khusus untuk kota madinah, dimana dlm kota tsb ada larangan membunuh binatang tertentu krn bs jadi merupakan penjelmaan jin muslim. sebagai bahan pertimbangan, coba anda tinjau tulisan berikut:
    Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ : الْحَيَّةُ ، وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ ، وَالْفَأْرَةُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ ، وَالْحُدَيَّا
    ”Lima binatang pengganggu yang boleh dibunuh di tanah halal maupun tanah haram: Ular, gagak abqa’, tikus, anjing galak, dan elang. (HR. Muslim 1198).

    Makna Hadis:

    Tanah halal: daerah di luar wilayah tanah haram

    Tanah haram: daerah di Mekah atau Madinah yang memiliki hukum khusus, diantaranya tidak boleh memburu binatang liar di sana.

    Kemudian dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar,

    اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ
    ”Bunuhlah ular-ular.”

    Komentar Ibnu Umar,

    فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا
    “Setiap kali saya ketemu ular, tidak saya biarkan dan saya bunuh.” (HR. Bukhari 3299 dan Muslim 3233).

    Kemudian, dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

    أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ : الْحَيَّةُ ، وَالْعَقْرَبُ
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh dua binatang hitam ketika shalat: ular dan kala. (HR. Turmudzi 390 dengan derajat shahih).

    Kita simak semua hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh ular. Dan tentu saja, perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perintah Allah. Karena itu, mentaati beliau, sejatinya adalah mentaati Allah,

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
    ”Siapa yang mentaati Rasul, berarti dia mentaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80).

    Jika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk membunuh ular, bagaimana mungkin seorang muslim justru malah merawatnya. Karena itulah, memahami hadis di atas, para ulama menegaskan haramnya memelihara binatang yang disyariatkan untuk dibunuh.

    Az-Zamakhsari – ulama Syafiiyah – (w. 794) mengatakan,

    يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ
    Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya: anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kala, tikus, gagak abqa’, dan ular. (al-Mantsur fi al-Qawaid, 3/80).

    Demikian pula dinukil oleh Ibnu Hajar al-Haitami – ulama syafiiyah – (w. 974 H.) dalam Tuhfah al-Muhtaj,

    وَيَحْرُمُ حَبْسُ شَيْءٍ مِنْ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ عَلَى وَجْهِ الِاقْتِنَاءِ
    “Diharamkan mengurung lima binatang pengganggu untuk dirawat.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarh Minhaj, 9/377)

    Dalam Hasyiyah al-Qalyubi dan Umairah – ulama madzhab Syafii – dinyatakan,

    ويحرم ما ندب قتله لأن الأمر بقتله أسقط احترامه، ومنع اقتناءه..
    “Binatang yang dianjurkan dibunuh, haram untuk dipelihara. Karena adanya perintah untuk membunuhnya, menggugurkan kemuliaannya, dan dilarang memeliharanya…” (Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairah, 16/157).

    Kemudian, Ibnu Qudamah – ulama hambali – (w. 620 H.) menetapkan sebuah kaidah,

    وما وجب قتله حرم اقتناؤه
    ”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (al-Mughni, 9/373)

    Allahu a’lam

    BalasHapus

Entri Populer